Minggu, 24 Mei 2015

Hai, Jendral.

Saat itu, rasanya tak ada yang lebih menyesakkan ketika jarak kita sudah dekat namun tak ada waktu untuk merapat. Saat itu, rasanya tak ada yang bisa diharapkan, sebab aku tau semuanya akan mengecewakan. Kita tak bisa menyalahkan siapapun atau apapun. Sebab inilah keadaan, inilah kenyataan. Dan kita akan semakin berantakan ketika tak mengikhlaskan.

Rabu, 20 Mei 2015

Pilihan

Bagiku, bagian yang paling menyebalkan dalam hidup adalah memilih. Memilih jalur kanan atau kiri, memilih melanjutkan atau berhenti, sampai memilih untuk tinggal atau menemui. Serasa dihimpit dua planet ketika dijejalkan dua pilihan yang menguras emosi. Ketika telah memutuskan untuk memilih, berarti kau telah memutuskan untuk bahagia atau kecewa. memutuskan untuk membahagiakan atau mengecewakan.

Senin, 11 Mei 2015

Sekelumit

Bulan sudah merapat ke barat. Tapi pikiranku seperti tak kenal istirahat. Semakin larut semakin rumit. Walau terkadang beberapa hal bukan masalah besar, hanya sekelumit. Seperti, "apa kau di sana tidur nyenyak?", atau "apa di sana kau pernah memikirkanku seharian?", atau terkadang, "apa ada perempuan lain yang memikirkanmu sampai pagi datang,seperti aku?", yang sebenarnya itu hanya bentuk dari kulit rinduku.
Kau tau? Jika ada yang lebih tahan lama membuatku tak tidur hingga pagi selain kopi, ialah engkau. Kau dengan segala tingkah menyenangkan-lucu-menyebalkan-mecucu itu.

Minggu, 26 April 2015

Sepuluh Purnama

Apa kabar hatimu? Kuharap ia tetap utuh,dan masih jadi tempat paut yang kuat untuk rasamu. Rasa yang membuat dua pikiran berbeda menjadi satu,yang menenggelamkan dua gunung emosi,rasa yang mengindahkan dua ego setinggi langit.
Hari ini aku tak beranjak dari sudut ruanganku. Bahkan sekedar mengisi lambung yang telah mengasam. Seharian ini awan tak mengizinkan si empunya hari bersinar. Senada dengan batinku yang diporak porandakan rindu. Aku tak menyangkal  tentang rindu yang kerap muncul,dan kadang memendamnya sendirian membuatku pilu.

Kamis, 26 Februari 2015

Jika Melepaskan adalah Jalan

Aku memilih diam ketika kau memilih untuk meninggalkan, sebab apa lagi yang aku harapkan, ketika kau sudah enggan untuk memperjuangkan? Entah sejak kapan, jalan kita mulai tak beraturan. Oh, mungkin sejak senja itu, seja dimana ada hati yang dikecewakan, sebab dirundung pertanyaan-pertanyaan tak bertuan. Belum lagi disemarakkan rasa kangen yang tak berkesudahan.
Mungkin aku ilalang, memenuhi hatimu yang memang sudah gersang. Lalu tumbuh memenuhi jalan sehingga merusak pemandangan. Maafkan karena rinduku memang tumbuh liar, tak ada yang menanam. Semakin tinggi ketika dipupuk jarak dan disiram hujan.
Satu hal yang perlu diluruskan adalah